JAKARTA — Inspektorat Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menerima kunjungan benchmarking dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) terkait penerapan Continuous Audit Continuous Monitoring (CACM) di Ruang Rapat Inspektur BPKP pada Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan bertujuan memperoleh wawasan dan praktik baik dalam pengembangan pengawasan berbasis data yang telah diterapkan oleh Inspektorat BPKP.
Kegiatan diawali dengan sambutan Theresia Ratna Astutiningsih selaku Koordinator Pengawas (Korwas) PKPM Inspektorat BPKP yang menyambut baik kunjungan tim KLH/BPLH.
Romi Putra selaku perwakilan KLH/BPLH menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan timnya. Ia menjelaskan bahwa KLH/BPLH ingin memperoleh informasi, wawasan, serta pembelajaran terkait strategi implementasi CACM yang telah dijalankan BPKP sebagai salah satu instansi pemerintah yang telah mengembangkan pengawasan berkelanjutan berbasis data. Melalui benchmarking ini, KLH/BPLH berharap memperoleh masukan yang dapat mendukung pengembangan sistem monitoring dan pengawasan yang lebih efektif di lingkungannya.
Ekosistem Aplikasi Pendukung CACM di BPKP
Theresia menjelaskan berbagai aplikasi yang dimiliki BPKP sebagai pendukung proses bisnis organisasi dan sumber data utama dalam implementasi CACM. Beberapa aplikasi yang diperkenalkan antara lain:
- SIMA untuk pengelolaan manajemen pengawasan dan penugasan
- BISMA sebagai pengelola informasi keuangan
- ROUMSA yang mendukung pengelolaan pengadaan barang dan jasa
Selain itu, berbagai aplikasi pendukung lainnya yang terintegrasi turut menjadi fondasi ekosistem data dalam mendukung pelaksanaan pengawasan berbasis data di lingkungan BPKP.
Theresia menekankan bahwa keberhasilan penerapan CACM tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan aplikasi, tetapi juga oleh kemampuan organisasi dalam mengelola, mengakses, dan memanfaatkan data secara optimal untuk mendukung monitoring dan pengawasan secara berkelanjutan.
CACM sebagai Transformasi Pengawasan Berbasis Data
Kegiatan dilanjutkan dengan paparan Adam Ramadhan Darwin mengenai implementasi CACM di Inspektorat BPKP. Menurutnya, CACM merupakan bentuk transformasi pengawasan menuju pendekatan berbasis data (data-driven auditing). Melalui pemanfaatan data analytics, auditor dapat mengidentifikasi pola, anomali, tren, dan potensi risiko secara lebih cepat sehingga mendukung pengambilan keputusan yang tepat dan responsif.
Adam juga memaparkan framework CACM di Inspektorat BPKP yang mencakup sumber data, proses analisis, visualisasi melalui dashboard, penyampaian informasi kepada manajemen, hingga tindak lanjut yang dilakukan oleh manajemen. Ia menegaskan bahwa keberhasilan implementasi CACM tidak semata ditentukan oleh teknologi yang digunakan, melainkan oleh kualitas data, ketepatan skenario analisis, serta komitmen organisasi dalam memanfaatkan hasil pengawasan secara berkelanjutan.
Tata Kelola Data sebagai Fondasi
Yoppy Setyoadi Pratama menjelaskan pentingnya tata kelola data sebagai fondasi utama implementasi CACM. Data yang digunakan dalam proses monitoring berasal dari berbagai unit pengampu dan dikelola melalui infrastruktur data yang terintegrasi.
Pengembangan setiap skenario CACM diawali dengan pemetaan proses bisnis untuk mengidentifikasi area berisiko tinggi, dilanjutkan dengan identifikasi kebutuhan data yang relevan. Yoppy juga menjelaskan bahwa Dashboard CITRA terus dikembangkan secara dinamis sesuai kebutuhan organisasi, perkembangan risiko, dan arahan pimpinan sehingga mampu mendukung fungsi pengawasan secara lebih efektif.
Diskusi Kesiapan Organisasi dan SIMAWAS KLH/BPLH
Pada sesi diskusi, tim KLH/BPLH dan Inspektorat BPKP bertukar pengalaman mengenai kesiapan organisasi dalam mengembangkan CACM, kebutuhan integrasi data internal dan eksternal, pengelolaan data warehouse, validasi dashboard, pembentukan tim pengelola, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Tim KLH/BPLH menyampaikan bahwa mereka telah memiliki aplikasi SIMAWAS sebagai sarana pengawasan internal, namun masih memerlukan pengembangan sistem monitoring yang lebih terintegrasi guna mendukung pengawasan berbasis data yang lebih cepat dan akurat. Sementara itu, Inspektorat BPKP berbagi pengalaman bahwa implementasi CACM merupakan proses yang dilakukan secara bertahap dan dapat dimulai dari skenario prioritas dengan risiko tinggi serta dukungan data yang tersedia.
CACM sebagai Early Warning System
Secara umum, kegiatan benchmarking memberikan pemahaman bahwa keberhasilan implementasi CACM sangat dipengaruhi oleh ketersediaan data digital yang berkualitas, dukungan unit pengampu data, serta kolaborasi yang kuat antara Inspektorat, pengelola infrastruktur data, dan unit terkait. CACM dipandang sebagai instrumen pengawasan berbasis data yang berfungsi sebagai early warning system dalam mendukung pengambilan keputusan manajemen secara cepat dan tepat.
Melalui kegiatan ini, KLH/BPLH memperoleh berbagai praktik baik yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan CACM di lingkungannya, sekaligus memperkuat sinergi dan komunikasi dengan Inspektorat BPKP untuk mendukung pengawasan yang lebih efektif dan berbasis data.
Ekosistem CACM BPKP dalam Kerangka STAR AF
Penguatan ekosistem pengawasan berbasis data di lingkungan BPKP, termasuk pengembangan skenario Continuous Auditing and Continuous Monitoring (CACM) dan modernisasi infrastruktur data pengawasan, merupakan salah satu agenda yang didukung Project State Accountability Revitalization Additional Financing (STAR AF), pinjaman ADB Loan 3872-INO. Dalam dokumen perencanaan STAR AF, kegiatan “Develop and upgrade a CA/CM scenario of dashboard of financial and development” tercatat sebagai kegiatan swakelola pada Kedeputian Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah (PPKD), bersama modernisasi Sistem Pengawasan Terintegrasi TI (SPTTI) dan penguatan konektivitas jaringan data pengawasan nasional di Pusinfowas. Benchmarking KLH/BPLH ke Inspektorat BPKP ini menjadi salah satu wujud replikasi praktik pengawasan berbasis data yang telah tumbuh dalam kerangka penguatan tersebut.
Sumber: Tim/Humas Inspektorat BPKP
